■Dahulu aku berangan-angan…..
Andai aku menjadi seorang PEGAWAI KANTORAN……
Dan benar saja, akhirnya akupun bekerja sebagai pegawai
Sehingga akupun terobsesi untuk segera MENIKAH.
■Dahulu aku berangan-angan ….
Kiranya aku dapat MENIKAH…..
Dan benar saja, akupun menikah,
Akan tetapi hidup ini demikian sepi tanpa kehadiran ANAK.
■Akupun berangan-angan….
kiranya aku dikaruniakan ANAK
Dan benar saja, akupun diberikan karunia anak -anak.
Akan tetapi ,
Tidak berselang beberapa lama akhirnya aku jenuh dengan dinding2 APARTEMENku sendiri.
■Akupun kembali berangan-angan..
Andai aku memiliki RUMAH PRIBADI.
Terdapat halaman dan tamannya…
Dan benar saja, setelah berusaha keras akupun memiliki rumah itu,
akan tetapi… anak anak ku sudah pada DEWASA..
■Akupun kembali berangan-angan.
Duhai kiranya aku dapat MENIKAHKAN MEREKA…
Dan benar saja, akhirnya merekapun telah menikah.
■Tapi aku jenuh dengan pekerjaanku dengan segala kesulitannya,
semuanya terasa sangat melelahkanku.
Akupun kembali berangan-angan..
Andai aku segera PENSIUN agar aku dapat beristirahat.
Benar saja, akupun akhirnya pensiun.
■Akan tetapi akupun tinggal seorang diri PERSIS seperti kala aku baru lulus kuliah dahulu.
Akan tetapi ketika baru lulus kuliah dahulu.
Saat ITU aku tengah MENYONGSONG KEHIDUPAN,
Sementara saat INI aku sedang MENYONGSONG AKHIR KEHIDUPAN
~Namun meskipun demikian,
aku masih saja memiliki SETUMPUK angan -angan…
●Kini aku berangan-angan untuk MENGHAFALKAN Al Qur’an
Tapi…
INGATANku telah mengkhianatiku (cepat lupa)
●Aku juga berangan-angan untuk BERPUASA mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ……
Tapi
KESEHATANku tidak lagi mendukungku.
●Aku juga berangan-angan untuk bangun SHALAT MALAM….
Tapi
KAKIku tak mampu lagi menahan beban tubuhku
♥Sungguh benarlah Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
al-Musthafa,
“Pergunakanlah sebaik-baiknya 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara:
Masa MUDAmu sebelum datang masa TUAmu
Masa SEHATmu sebelum masa SAKITmu
Masa KAYAmu sebelum datang masa MISKINmu
Masa LUANGmu sebelum datang masa SIBUKmu
Masa HIDUPmu sebelum datang MATImu
Ya Allah….
Bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu,
bersyukur pada-Mu dan melakukan ibadah sebaik-baiknya kepada-Mu.
Jika dalam aktivitas harianmu tidak terdapat ;
√ Dua rakaat Shalat Duha,
√ Atau 1 hizb bacaan Qur’an
√ Atau shalat Witir di malam hari,
√ Atau ungkapan kalimat baik yang kau ucapkan,
√ Atau sedekah yang dapat memadamkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala ,
√ Atau amalan rahasia yang tak diketahui melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala
.
Maka masih adakah nikmat hidup tersisa untukmu?
Semoga bermanfaat
"MOTIVASI DIRI ISLAMI"
Kiranya aku dapat MENIKAH…..
Dan benar saja, akupun menikah,
Akan tetapi hidup ini demikian sepi tanpa kehadiran ANAK.
■Akupun berangan-angan….
kiranya aku dikaruniakan ANAK
Dan benar saja, akupun diberikan karunia anak -anak.
Akan tetapi ,
Tidak berselang beberapa lama akhirnya aku jenuh dengan dinding2 APARTEMENku sendiri.
■Akupun kembali berangan-angan..
Andai aku memiliki RUMAH PRIBADI.
Terdapat halaman dan tamannya…
Dan benar saja, setelah berusaha keras akupun memiliki rumah itu,
akan tetapi… anak anak ku sudah pada DEWASA..
■Akupun kembali berangan-angan.
Duhai kiranya aku dapat MENIKAHKAN MEREKA…
Dan benar saja, akhirnya merekapun telah menikah.
■Tapi aku jenuh dengan pekerjaanku dengan segala kesulitannya,
semuanya terasa sangat melelahkanku.
Akupun kembali berangan-angan..
Andai aku segera PENSIUN agar aku dapat beristirahat.
Benar saja, akupun akhirnya pensiun.
■Akan tetapi akupun tinggal seorang diri PERSIS seperti kala aku baru lulus kuliah dahulu.
Akan tetapi ketika baru lulus kuliah dahulu.
Saat ITU aku tengah MENYONGSONG KEHIDUPAN,
Sementara saat INI aku sedang MENYONGSONG AKHIR KEHIDUPAN
~Namun meskipun demikian,
aku masih saja memiliki SETUMPUK angan -angan…
●Kini aku berangan-angan untuk MENGHAFALKAN Al Qur’an
Tapi…
INGATANku telah mengkhianatiku (cepat lupa)
●Aku juga berangan-angan untuk BERPUASA mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ……
Tapi
KESEHATANku tidak lagi mendukungku.
●Aku juga berangan-angan untuk bangun SHALAT MALAM….
Tapi
KAKIku tak mampu lagi menahan beban tubuhku
♥Sungguh benarlah Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
al-Musthafa,
“Pergunakanlah sebaik-baiknya 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara:
Masa MUDAmu sebelum datang masa TUAmu
Masa SEHATmu sebelum masa SAKITmu
Masa KAYAmu sebelum datang masa MISKINmu
Masa LUANGmu sebelum datang masa SIBUKmu
Masa HIDUPmu sebelum datang MATImu
Ya Allah….
Bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu,
bersyukur pada-Mu dan melakukan ibadah sebaik-baiknya kepada-Mu.
Jika dalam aktivitas harianmu tidak terdapat ;
√ Dua rakaat Shalat Duha,
√ Atau 1 hizb bacaan Qur’an
√ Atau shalat Witir di malam hari,
√ Atau ungkapan kalimat baik yang kau ucapkan,
√ Atau sedekah yang dapat memadamkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala ,
√ Atau amalan rahasia yang tak diketahui melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala
.
Maka masih adakah nikmat hidup tersisa untukmu?
Semoga bermanfaat
"MOTIVASI DIRI ISLAMI"
![]() |
| Hikmah Sholat Gerhana Dan Keutamaan Sholat Gerhana |
Hikmah Sholat Gerhana Dan Keutamaan Sholat Gerhana - Shalat Gerhana atau Shalat Kusuf adalah shalat yang dikerjakan ketika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, baik itu gerhana sebagian maupun gerhana total. Mengenai hukum shalat gerhana, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama, sebagian ulama menyatakan hukum shalat gerhana adalah Sunnah Mu'akkaddah (sangat-sangat ditekankan) dengan alasan mereka membatasi shalat wajib adalah shalat yang lima waktu, namun sebagian ulama yang lain menyatakan hukum shalat gerhana adalah wajib. Dasar perbedaan pendapat ini karena Rasulullah SAW sendiri mengerjakan dan memerintahkan untuk mengerjakan shalat kusuf.
Hadits Tentang Keutamaan Mengerjakan Shalat Gerhana
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu terjadi gerhana matahari. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berjalan cepat sambil menyeret selendangnya hingga masuk ke dalam masjid, maka kamipun ikut masuk ke dalam masjid. Beliau lalu mengimami kami shalat dua rakaat hingga matahari kembali nampak bersinar. Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan berdoalah hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 1040)
Tata Cara Dan Ketentuan Pelaksanaan Shalat Gerhana
Waktu pelaksanaan shalat gerhana adalah ketika gerhana mulai terlihat
sampai bulan atau matahari kembali terlihat normal. Bagi daerah yang
tidak dapat melihat gerhana tidak ada keharusan untuk melaksanakan
shalat gerhana, karena hanya diharuskan bagi siapa saja yang dapat
melihat peristiwa tersebut.
Tata cara pelaksanaan shalat gerhana adalah :
- Tidak ada adzan dan iqomah sebelum shalat gerhana, yang ada hanya
seruan untuk shalat berjama'ah. Sesuai dengan hadits : Dari Abdullah bin
Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata:
لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ
“Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka diserukan: “Ashshalaatul jaami’ah (shalat secara berjamaah).” (HR. Al-Bukhari no. 1045) - Disunnahkan dikerjakan dengan berjamaah di masjid
- Shalat sunnah gerhana dikerjakan dalam 2 rakaat yang sama seperti shalat 2 rakaat lainnya, yang berbeda adalah bacaan surah, ruku’, dan sujudnya sangat lama, dan setiap rakaat terdiri dari 2 kali ruku’, sehingga 2 rakaat terdiri dari 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Berdasarkan Hadits : Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian ruku’ dengan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya, namun tidak selama yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dan memanjangkan lama ruku’nya, namun tidak selama rukuknya yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, beliau kemudian mengerjakan rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali. Kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak..."(HR. Al-Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 1499)
- Disunnahkan ada khutbah setelah shalat gerhana (berdasarkan hadits di atas)
- Disunnahkan bagi imam untuk menjahrkan (mengeraskan) bacaan pada shalat gerhana sebagaimana pada shalat id. Ini merupakan pendapat Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Yusuf dari Al-Hanafiah dan selainnya. Aisyah radhiallahu anha berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam menjahrkan bacaan dalam shalat khusuf.” (HR. Al-Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)
Apakah Peristiwa Gerhana Berhubungan Dengan Peristiwa Kematian Atau Kelahiran Seseorang?
Tidak sedikit dari masyarakat sekitar kita yang mengaitkan peristiwa
gerhana bulan maupun matahari dengan peristiwa kematian maupun kelahiran
seseorang, dan pendapat ini juga pernah ada ketika masa Rasulullah dan
sudah dijelaskan oleh beliau dalam Hadits :
Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu berkata: Pada zaman
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana
matahari. yaitu pada hari wafatnya Ibrahim (putra Rasulullah shallahu
‘alaihi wasallam dari Mariyah Al-Qibthiyah). Lalu orang-orang
berkomentar: Telah terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim.
Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan
Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidup
seseorang. Jika kalian melihat keduanya (terjadi gerhana), maka segera
berdoalah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.”
(HR. Muttafaq ‘alaih). Menurut riwayat Bukhari disebutkan: “Sampai
terang kembali.”
Demikian semoga dapat mencerahkan dan kita selalu mendapat hidayah untuk
merasa senang melaksanakan ibadah baik yang wajib maupun ibadah Sunnah.
Cerita Ritual Mandi Rukiah
Nama gadis itu Yuli. Wajahnya yang ayu nampak muram, seolah cahaya di wajahnya telah pergi bersama separuh hatinya yang membuat ia terus menyebut-nyebut kalimat “Mak, aku minta kawin” bak kaset rekaman yang rusak.
Terkadang, bila seorang pergi dari hidup kita ia juga membawa separuh
hati kita pergi. Yuli tengah bertarung melawan kesakitan itu,
meraung-raung meminta separuh hatinya kembali agar hatinya utuh. Namun,
rindu Yuli bagaikan pungguk merindu rembulan, cinta yang telah lama ia
nantikan untuk disatukan dalam bahtera rumah tangganya kandas seketika
saat ia harus menghadapi kenyataan: Lamaran kekasihnya ditolak oleh
orangtuanya. Kini sang gadis sarjana S1 itupun menghabiskan waktunya
dengan kejiwaannya yang terganggu.
Aku melihat kesedihan mendalam di dua pasang bola mata orangtua Yuli. Mungkin mereka benar-benar merasa bersalah dengan apa yang mereka perbuat. Ibu Yuli mengerutkan dahinya, menatapku nanar dan penuh harap lalu membuka mulutnya, “Tolonglah, Ustadz... Sembuhkan anak kami, Yuli… Kami sekarang ihlas dia menikah dengan siapapun asalkan anak kami sembuh”
“Saya hanya bisa berdoa dan berikhtiar, Bu. Saya akan mencoba meruqyah anak ibu semampu saya” jawabku tulus.
Akupun membuat sebuah ramuan rendaman mujarab dari campuran daun bidara, daun sirih, jeruk nipis yang dicampur dalam seember besar air lalu meruqyahnya.
“Yuli, ke mari” Ucapku seraya menuntunnya masuk ke dalam gentong berwarna merah berisi air.
Yuli menurut saja, tetapi kulihat langkah kakinya bagai mayat dalam ritual Ma’nene di Toraja. Terang sekali, ia bagai mayat berjalan. Dalam hati aku membatin, pastilah luka dalam jiwanya ini begitu dalam. Aku menjadi sangat iba pada Yuli. Saat proses meruqyahnya, dengan izin Allah, aku berusaha tulus ingin menyembuhkannya, ditambah orangtuanya sangat menumpukan harapannya padaku.
Berhari-hari aku meruqyahnya secara berkala. Lantunan demi lantunan ayat ruqyah kubacakan padanya, guyuran demi guyuran obat herbal telah tandas untuk mengobati gadis itu. Alhamdulillah, setelah sesi ruqyah ke sekian kalinya, ketika Yuli membuka matanya setelah mengerjap-kerjap beberapa kali, tatapan matanya tak lagi kosong. Allah telah mengisi kembali kehampaannya dengan kasih sayang-Nya. Wajah Yuli pun menghangat dan cerah dengan semangat baru. Allah Maha Baik.
Pada satu kesempatan khusus Yuli akhirnya mencurahkan isi hatinya padaku. Airmatanya meleleh seketi-ka wajahnya berusaha menahan luapan emosi yang membuat wajahnya merah padam.
“Ustadz, hatiku hancur sehancur-hancurnya… orangtuaku tidak menyetujuiku menikah dengan pria yang aku cintai, akhirnya entah mengapa dada ini terasa sangat nyeri, kepalaku terasa sangat sakit, dan aku kehilangan kesadaran. Aku baru tersadar kembali setelah bertemu dengan Ustaz”
Aku mengernyitkan dahiku, curahan hati Yuli serasa menohok ulu hatiku. Aku berbisik dalam hati, Aku tidak lebih beruntung darimu, Yuli. Aku pernah mencintai seseorang, tetapi belum sampai tangan ini hendak meraihnya, cintaku ia tolak mentah-mentah. Kau masih sempat diperjuangkannya, Yuli, hanya saja terkadang takdir memang ganas melindas harapan. Membuat kita menjadi menganga-ngaga harus menerima realita. Cinta memang tidak selalu berakhir bahagia, terkadang jika kita terlalu menghamba pada cinta manusia, kita lupa akan cinta yang hakiki, cinta pada-Nya, hingga Dia menimpakan pedihnya ditinggal cinta, agar harapan itu kembali ditumpukan kepada-Nya. Agak lama kuhabiskan waktu untuk menasihati Yuli agar ia lebih kuat menata kembali kepingan-kepingan hatinya. Perkara patah hati memang tak pernah mudah untuk diatasi.
Orangtua Yuli mengulum senyum, terharu, senang, dan luapan syukur terbit di wajah keduanya. Anak gadisnya telah kembali menjejak bumi. Berulang kali orangtua Yuli mengucapkan terimakasih padaku mengantar pulangku. Sebelum aku meninggalkan rumahnya aku menasihati rangtua Yuli agar mencarikan jodoh yang dicintainya dan segera dinikahkan. Segera setelah itu, orangtua Yuli menyelipkan amplop tebal di saku bajuku dengan antusias.
Uang. Uang tidak akan dapat membeli cinta sejati. Biarlah cintaku terantung di langit tinggi. Ada 73 bidadari surga yang menanti diri yang akan memperebutkan cinta sang mujahid yang syahid. Aku ikhlas dengan cobaan di dunia ini karena jiwaku pun sesungguhnya terluka karena tak pernah berbalas cinta ini.
Aku melihat arak-arak awan-gemawan sembari menutup pergumulan hati ini.
Selesai
Aku melihat kesedihan mendalam di dua pasang bola mata orangtua Yuli. Mungkin mereka benar-benar merasa bersalah dengan apa yang mereka perbuat. Ibu Yuli mengerutkan dahinya, menatapku nanar dan penuh harap lalu membuka mulutnya, “Tolonglah, Ustadz... Sembuhkan anak kami, Yuli… Kami sekarang ihlas dia menikah dengan siapapun asalkan anak kami sembuh”
“Saya hanya bisa berdoa dan berikhtiar, Bu. Saya akan mencoba meruqyah anak ibu semampu saya” jawabku tulus.
Akupun membuat sebuah ramuan rendaman mujarab dari campuran daun bidara, daun sirih, jeruk nipis yang dicampur dalam seember besar air lalu meruqyahnya.
“Yuli, ke mari” Ucapku seraya menuntunnya masuk ke dalam gentong berwarna merah berisi air.
Yuli menurut saja, tetapi kulihat langkah kakinya bagai mayat dalam ritual Ma’nene di Toraja. Terang sekali, ia bagai mayat berjalan. Dalam hati aku membatin, pastilah luka dalam jiwanya ini begitu dalam. Aku menjadi sangat iba pada Yuli. Saat proses meruqyahnya, dengan izin Allah, aku berusaha tulus ingin menyembuhkannya, ditambah orangtuanya sangat menumpukan harapannya padaku.
Berhari-hari aku meruqyahnya secara berkala. Lantunan demi lantunan ayat ruqyah kubacakan padanya, guyuran demi guyuran obat herbal telah tandas untuk mengobati gadis itu. Alhamdulillah, setelah sesi ruqyah ke sekian kalinya, ketika Yuli membuka matanya setelah mengerjap-kerjap beberapa kali, tatapan matanya tak lagi kosong. Allah telah mengisi kembali kehampaannya dengan kasih sayang-Nya. Wajah Yuli pun menghangat dan cerah dengan semangat baru. Allah Maha Baik.
Pada satu kesempatan khusus Yuli akhirnya mencurahkan isi hatinya padaku. Airmatanya meleleh seketi-ka wajahnya berusaha menahan luapan emosi yang membuat wajahnya merah padam.
“Ustadz, hatiku hancur sehancur-hancurnya… orangtuaku tidak menyetujuiku menikah dengan pria yang aku cintai, akhirnya entah mengapa dada ini terasa sangat nyeri, kepalaku terasa sangat sakit, dan aku kehilangan kesadaran. Aku baru tersadar kembali setelah bertemu dengan Ustaz”
Aku mengernyitkan dahiku, curahan hati Yuli serasa menohok ulu hatiku. Aku berbisik dalam hati, Aku tidak lebih beruntung darimu, Yuli. Aku pernah mencintai seseorang, tetapi belum sampai tangan ini hendak meraihnya, cintaku ia tolak mentah-mentah. Kau masih sempat diperjuangkannya, Yuli, hanya saja terkadang takdir memang ganas melindas harapan. Membuat kita menjadi menganga-ngaga harus menerima realita. Cinta memang tidak selalu berakhir bahagia, terkadang jika kita terlalu menghamba pada cinta manusia, kita lupa akan cinta yang hakiki, cinta pada-Nya, hingga Dia menimpakan pedihnya ditinggal cinta, agar harapan itu kembali ditumpukan kepada-Nya. Agak lama kuhabiskan waktu untuk menasihati Yuli agar ia lebih kuat menata kembali kepingan-kepingan hatinya. Perkara patah hati memang tak pernah mudah untuk diatasi.
Orangtua Yuli mengulum senyum, terharu, senang, dan luapan syukur terbit di wajah keduanya. Anak gadisnya telah kembali menjejak bumi. Berulang kali orangtua Yuli mengucapkan terimakasih padaku mengantar pulangku. Sebelum aku meninggalkan rumahnya aku menasihati rangtua Yuli agar mencarikan jodoh yang dicintainya dan segera dinikahkan. Segera setelah itu, orangtua Yuli menyelipkan amplop tebal di saku bajuku dengan antusias.
Uang. Uang tidak akan dapat membeli cinta sejati. Biarlah cintaku terantung di langit tinggi. Ada 73 bidadari surga yang menanti diri yang akan memperebutkan cinta sang mujahid yang syahid. Aku ikhlas dengan cobaan di dunia ini karena jiwaku pun sesungguhnya terluka karena tak pernah berbalas cinta ini.
Aku melihat arak-arak awan-gemawan sembari menutup pergumulan hati ini.
Selesai
Rahasia Doa Nabi Yunus - "La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin." Demikianlah doa atau zikir yang masyhur diajar dan diamalkan oleh umat Islam. Ia bermaksud "Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri." Doa yang baik lagi mujarab ini diucapkan oleh Nabi Yunus sebagaimana diterima oleh Allah:
Dan (sebutkanlah peristiwa) Zun Nun (gelar bagi Nabi Yunus), ketika dia (meninggalkan kaumnya) dalam keadaan marah, yang menyebabkan dia menyangka bahwa Kami tidak akan mengenakannya kesusahan atau cubaan; maka dia pun menyeru dalam keadaan yang gelap-gulita dengan berkata: "Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri." [al-Anbiya’ 21:87]
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِين
DOA NABI YUNUS
KETIKA DALAM PERUT IKAN
Sedikit Latarbelakang Kisah Nabi Yunus.
Nabi Yunus bin Matta ialah salah seorang Rasul Allah [al-Shaffat 37:139]. Ketika diutus kepada kaumnya, beliau marah atas keengganan mereka untuk menerima dakwah tauhid yang disampaikannya. Justru dalam keadaan marah, beliau meninggalkan kaumnya dan menaiki kapal. Sayang sekali dalam pelayaran, kapal tersebut agak sarat dengan muatan sehingga hampir tenggelam. Para penumpang melakukan undian, siapakah yang perlu dibuang ke laut bagi meringankan beban kapal. Nabi Yunus turut mengundi lalu kalah, maka beliau terpaksa terjun dari kapal itu ke lautan luas.
Di dalam lautan luas, Nabi Yunus ditelan pula oleh sebuah ikan yang besar, kemungkinan salah satu dari spesis ikan paus. Dalam perut ikan yang gelap-gulita itulah, Nabi Yunus menyadari kesalahannya melarikan diri dari misi dakwahnya, lalu banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah dengan kalimah "La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin." Maka dengan doa ini, Allah berfirman: "Maka Kami kabulkan permohonan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan yang menyelubunginya dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman." [al-Anbiya’ 21:88]
Seandainya Nabi Yunus tidak mengingati Allah dengan doa tersebut, maka Allah menyatakan: "Maka kalaulah dia bukan dari orang-orang yang sentiasa mengingati Allah, tentulah dia akan tinggal di dalam perut ikan itu hingga ke hari manusia dibangkitkan keluar dari kubur." [al-Shaffat 37: 142-143]
Apakah rahasia di sebalik doa "La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin" yang secara zahirnya seperti ringan disebut, mudah dihafal? Bagaimana mungkin satu doa seperti ini dapat menyelematkan seseorang dari musibah yang amat besar, sebesar ditelan oleh ikan paus? Adakah doa ini khusus untuk Nabi Yunus atau umum untuk semua umat Islam? Demikianlah beberapa rahasia dan misteri yang ingin saya bagikan seterusnya.
Rahasia pertama
perhatikan bahwa doa ini dibuka dengan kalimah tauhid "Tiada Tuhan melainkan Allah". Kalimah tauhid tidak sekadar bermaksud tiada tuhan yang berhak aku sembah melainkan Allah, tetapi dalam konteks ini juga bermaksud tiada tuhan yang patut aku mengadu, mengharapkan ampunan dan me munajatkan keselamatan melainkan Allah. Pembukaan seperti ini membuktikan kemantapan dan keteladanan tauhid Nabi Yunus di mana beliau tidak mengadu dan berharap kepada siapapun melainkan kepada Allah saja.Ini merupakan manhaj para Rasul dan Nabi yang mesti kita ikuti. Perhatikan – sebagai contoh lain – sikap Nabi Ayyub ketika beliau ditimpa penyakit. Beliau tidak mengadu kepada para dokter atau selainnya, tetapi mengadu kepada Allah saja: Dan (sebutkanlah peristiwa) Nabi Ayyub, ketika dia berdoa merayu kepada Tuhannya dengan berkata: "Sesungguhnya aku ditimpa penyakit, sedang Engkaulah saja yang lebih mengasihani daripada segala (yang lain) yang mengasihani." [al-Anbiya 21:83]
Rahasia kedua
Seterusnya Nabi Yunus mengucapkan "Maha Suci Engkau (ya Allah):", berarti mensucikan Allah dari bentuk-bentuk kedzaliman atau penganiayaan. Lebih mendalam, Nabi Yunus meng sucikan Allah bahwa apa yang menimpanya saat itu (ditelan oleh ikan paus) bukanlah merupakan satu bentuk penganiayaan oleh Allah ke atas dirinya.Penyucian ini penting ditegaskan kerana kadangkala apabila ditimpa kesusahan, kita marah atau menyalahkan Allah. Malah kita menuduh Allah sengaja menganiaya diri kita. Maha Suci Allah dari menganiaya manusia, tetapi manusialah yang menganiaya diri mereka sendiri: "Dan tiadalah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." [al-Nahl 16:118]
Rahasia ketiga
Tanpa keberatan, tanpa alasan yang berlapik-lapik, Nabi Yunus terus mengaku kesalahannya dengan berkata: "Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri." Nabi Yunus tidak terus meminta ampun kepada Allah, sebaliknya memilih cara yang lebih lembut, beradab lagi merendah diri, yakni dengan mengakui kesalahan dirinya sendiri.Selain itu Nabi Yunus sadar bahwa kesusahan yang menimpanya saat itu, iaitu ditelan oleh ikan paus, merupakan kesan dari kesalahan dirinya sendiri yang melarikan diri dari tugas dakwah yang Allah amanahkan kepadanya. Merupakan sesuatu yang sedia dimaklumi bahwa salah satu faktor seseorang itu ditimpa kesusahan dan kesulitan ialah kerana dosa-dosa hasil dari kesalahan yang pernah dia lakukan sendiri. Allah menyatakan hakikat ini:
"Dan apa jua yang menimpa kamu dari sesuatu kesusahan, maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan (dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa) dan (dalam pada itu) Allah memaafkan sebahagian besar dari dosa-dosa kamu." [al-Shura 42:30]
Demikianlah tiga rahasia di balik mujarabnya doa Nabi Yunus. Ia bukan sekadar ucapan yang ringan di mulut lagi mudah dihafal, tetapi ucapan yang memantapkan tauhid, mensucikan Allah dan mengakui kesalahan diri sendiri sekaligus mengisyaratkan pemohonan ampun. Marilah kita sama-sama mengamalkannya dan menelusuri rahasia-rahasiaNya. Aamiin
Semoga bermanfaat :)
Kisah Hikmah Bulan Sya'ban
“Barang siapa yang mengagungkan bulan Sya’ban, bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, serta menahan diri dari perbuatan maksiat, maka Allah SWT mengampuni dosanya dan menyelamatkannya pada tahun itu dari segala macam bencana, dan dari bermacam-macam penyakit.”Sahabat sebuah hadist tentang bulan Sya’ban memulai catatan kisah hari ini, tepat pada tanggal dua dibulan sya’ban. Dan Ramadhan kini tinggal sekitar 29 hari lagi. Begitu istimewanya bulan menjelang ramadhan ini, namun tak sedikit yang lalai dalam bulan ini, banyak kisah menarik tentang bulan sya’ban sahabat, diceritakan dari Muhammad bin Abdullah az Zahidiy bahwa dia berkata: Kawan saya Abu Hafshin al Kabir telah meninggal dunia, maka saya menyalatinya. Dan saya tidak mengunjungi kuburnya lagi selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud menengok kuburnya.
Ketika saya tidur di malam hari, saya bermimpi melihatnya, mukanya berubah menjadi pucat. Saya bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya. Kemudian saya bertanya kepadanya: “Subhanallah, mengapa engkau tidak menjawab salam saya?”
Membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah,” jawabnya. “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dulu berwajah bagus?” tanya saya.
Dia menjawab: “Ketika saya dibaringkan di dalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk di sebelah kepala saya seraya berkata: “Hai si tua yang jahat!,” lalu dia menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat, bahkan dia memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar. Kubur pun berkata kepada saya: “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku?”, lalu kubur pun menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang rusuk saya menjadi bertebaran dan sendi-sendinya menjadi terpisah-pisah, siksaan itu berlangsung sampai malam pertama bulan Sya’ban. Waktu itu ada suara mengundang dari atas saya: “Hai malaikat, angkatlah batang kayumu, dan siksamu dari padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidup-hidupkan satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari di bulan Sya’ban.”
Maka Allah SWT menghapuskan siksa dari padaku karena aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan puasa satu hari di bulan Sya’ban. Kemudian Allah memberi kegembiraan kepadaku dengan surga dan kasih sayang-Nya.
Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arob, makna kata Sya’ban adalah dari lafadz ‘Sya’aba’ atau berarti ‘dhoharo’ (tampak) diantara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan.
Sedangkan Menurut As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al Malikiy dalam kitab beliau ‘Madza fi Sya’ban’, dalam bulan Sya’ban ini ada kejadian-kejadian besar yang berkaitan erat dengan perjalanan hidup umat. Kejadian-kejadian tersebut diantaranya: Allah berkenan untuk merubah arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsho ke arah Masjidil Haram, yang sebelumnya tatkala umat Islam berada di Kota Madinah, jika melakukan shalat kiblatnya mengarah ke arah Baitul Maqdis.
Apa yang mereka lakukan ini menjadi bahan cemoan orang-orang Yahudi di Kota Madinah. Mereka mengatakan, katanya Muhammad membawa risalah dan agama baru yang lengkap. Tapi ternyata kiblat mereka masih menggunakan kiblatnya orang Yahudi, yaitu Baitul Maqdis.
Ucapan tersebut, bagi sebagian umat Islam yang baru masuk Islam dan sangat tipis imannya, sudah lebih dari cukup untuk memurtadkan mereka kembali. Sehingga kondisi ini menjadi pemikiran yang sangat mendalam bagi Nabi SAW. Karena itu, Nabi selalu berdoa dan sering melihat keatas berharap ada firman Allah, yang memberi solusi masalah ini. Kemudian tepatnya pada 15 Sya’ban, Allah berkenan memindah kiblat umat Islam menuju Masjidil Harom.
Pada bulan Sya’ban, segala amal manusia dalam jangka waktu satu tahun dilaporkan kehadirat Allah SWT. Sebagaimana hadits yang disampaikan sahabat Usamah bib Zaid ra. ; “Saya pernah berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak melihat Anda berpuasa penuh pada bulan lain, seperti puasa Anda di bulan Sya’ban ini? Beliau menjawab: Pada bulan ini adalah sebuah bulan yang banyak dilalaikan oleh umat manusia, dan dia berada diantara Rajab dan Ramadhan yang pada bulan tersebut seluruh amal manusia dilaporkan ke hadirat Allah, maka aku senang tatkala amal ibadahku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasaiy).
Pada bulan ini, khususnya pada malam nisfu Sya’ban, Allah berkenan untuk menentukan umur manusia. Seperti dalam hadits Aisyah ra, yang pernah bertanya kepada Nabi SAW : Wahai Rasulullah, apakah bulan yang Anda paling sukai untuk melakukan puasa adalah bulan Sya’ban? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah pada bulan ini menetapkan setiap jiwa manusia yang akan mati pada satu tahun ke depan, maka aku senang tatkala ajalku tiba aku sedang dalam keadaan puasa.”
Karenanya, para ulama salaf menganjurkan pada malam nisfu Sya’ban setelah maghrib mengadakan acara khusus dengan membaca surah Yasin tiga kali, dengan niatan, semoga dipanjangkan umur dalam ibadah kepada Allah. Kedua, dengan niatan semoga dijauhkan dari segala balak dan musibah. Ketiga, kita berdoa agar selalu diberi kecukupan dunia oleh Allah SWT. Selain itu, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memperbanyak puasa sunnah, dan memperbanyak melakukan shalat malam, dengan iringan doa dan istighfar.
Dalam sebuah kitab (Bidayatul-Hidayah), diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkanNeraka Jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyala api yang sangat dahsyat gemuruhnya, hingga semua umat menjadi berlutut karena tak sanggup menahan ketakutannya.
Allah S.W.T berfirman, “Kamu
lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada
lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan
kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau
kerjakan.” (Surah al-Jatsiyah ayat 28)
Ketika
mereka menghampiri neraka, mereka mendengar gemuruh api neraka yang
suaranya sudah dapat mulai didengar sejarak 500 tahun perjalanan. Pada
waktu itu, akan berkata setiap orang, bahkan para nabi sekalipun akan berucap, “Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah), kecuali hanya seorang nabi saja yang akan berkata, “Umatku, umatku.”
Beliau
ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan
keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad
berusaha menghalanginya dengan berkata, “Wahai api! Demi hak orang-orang
yang solat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak
orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya
engkau kembali.”
Walaupun
dikata demikian, api neraka itu tetap tidak segera kembali, lalu
malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat
Muhammad S.A.W”
Kemudian
Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril
A.S. “Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.”
Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah
api itu. Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S.
“Wahai Jibril, Apakah air itu?”
Maka
Jibril berkata, “Itulah air mata orang durhaka di kalangan umatmu yang
menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan
untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka
padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T.
Rasulullah
S.A.W pernah bersabda, “Bahwa tidak akan masuk neraka orang menangis
karena takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat
asalnya.”
Dalam sebuah kitab Daqa’iqul Akhbar menerangkan
bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangat
beratlah timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk
dimasukkan ke dalam neraka. Maka salah satu daripada rambut-rambut
matanya berkata, “Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah
bersabda, barang siapa yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T,
maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku
menangis karena amat takut
kepada-Mu.”
Akhirnya
Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka
dengan berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada
Allah S.W.T. Malaikat Jibril A.S mengumumkan, telah selamat Fulan bin
Fulan sebab sehelai rambut.”
Sungguh telah bersabda Rasulullah S.A.W, ” Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis karena takut kepada-Mu, sebelum tidak ada lagi air mata.”
Baca Juga : cara-melacak-nomor-hp-lewat-internet.
Baca Juga : cara-melacak-nomor-hp-lewat-internet.
Kematian
memang di tangan Allah. Tetapi memajukan dan mengundurkan kematian
adalah hak Nya juga. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian
menjadi sesuatu yang bisa ditunda. bagaimana caranya dan mengapa bisa
terjadi?
Kisah
ini betul betul terjadi pada masa kenabian Ibrahim a.s. Suatu hari,
Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa
anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”
“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”
“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”
“Wahai
Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.”
Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan
Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk
rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam
ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi
langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi
rahasia Allah.
Esok
paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak
muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun
berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang
umurnya.
Hingga
usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada
Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan
bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat
Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda
tersebut, tapi Allah menahannya.
“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”
“Wahai
Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut
menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah
memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau
masih melihatnya hidup.”
kematian
memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian
adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad
shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila
disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu
adalah…sedekah.
Maka,
tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda
menemukan ada satu-dua kesusahan di depan mata anda. maka sesungguhnya
Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu
ditampakkan oleh Allah untuk memperpanjang umur Anda.
Tinggal
apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka
kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.
Saudara-saudaraku
sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan
sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa
ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang
umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik.
Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau
seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang
tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak
ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut
dalam keadaan husnul khatimah.
Mudah-mudahan
Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan
untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil
mempersiapkan kematian datang.
Baca Juga : tidak-bisa-mengingat-kenangan-masa-bayi
Baca Juga : tidak-bisa-mengingat-kenangan-masa-bayi
![]() |
Shalat subuh adalah shalat yang saat ini banyak ditinggalkan oleh umat Islam. Padahal terdapat banyak keutamaan yang menegaskan bahwa shalat subuh atau disebut juga shalat fajar berbeda dengan shalat fardhu yang lain.
Di antara keutamaan tersebut adalah:
•Pahala shalat semalam penuh
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Ustman bin ‘Affan, bahwa Nabi bersabda:
من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله
Barang siapa yang shalat isya berjama’ah seolah-olah dia telah mendirikan shalat setengah malam, dan barang siapa shalat subuh berjamaah (tentunya juga dengan mendirikan shalat isya berjamaah), maka seolah-oalah dia telah shalat semalam penuh
Apakah kita mampu shalat semalam penuh? Jujur kita akan menjawab “tidak”. Tetapi dengan kemurahan-Nya Allah menjadikan shalat isya dan subuh “dua serangkai” yang dengannya kita berhak mendapat pahala shalat sepanjang malam.
Subhanallah!
• Sumber cahaya di hari kiamat
Gelap gulita adalah satu kondisi setelah kiamat tejadi, karena Allah berfirman:
"إذا الشمس كورت، وإذا النجوم انكدرت"
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan (QS. At-Takwir [81]: 1-2).
Padahal matahari dan bintang-bintang adalah sumber cahaya. Jika keduanya dihancurkan maka kegelapan akan menyelimuti. Saat seperti inilah manusia memerlukan cahaya. Cahaya itu adalah amal shalih, termasuk shalat subuh. Dari Baridah al salami, Nabi bersabda:
بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan malam menuju masjid dengan cahaya sempurna kelak di hari kiamat. (HR. Tirmidzi no. 207)
Menurut Dr. Raghib as Sirjani, yang dimaksud orang yang berjalan di kegelapan malam adalah orang-orang yang berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat isya dan subuh berjama’ah (Kaifa tuhaafidzu ‘ala shalati al fajri hlm. 27).
• Balasan surga
Dari Abu Musa al asy’ari Nabi bersabda:
من صلى البردين دخل الجنة
Barangsiapa mengerjakan shalat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk surga. (HR. Bukhari no. 540)
Yang dimaksud shalat pada waktu dingin adalah shalat subuh dan ashar.
Dua rakaat sebelum subuh adalah nafilah yang lebih agung dari dunia sisinya. Dari Ibunda ‘Aisyah rah. Nabi bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik daripada dunia seisinya. (HR. Muslim no. 1193)
Imam Ibnu Hajar al ‘asqalani dalam kitab beliau fathul bari menyebutkan bahwa Nabi tidak melaksanakan shalat sunnah rawatib (baik qabliyah maupun ba’diyah) saat safar kecuali dua rakaat sebelum subuh.
Shalat subuh memiliki hukum-hukum fikih dan dzikir yang berbeda dengan shalat fardhu yang lain, diantaranya:
Jumlah rakaat shalat subuh sejak awal diperintahkan adalah 2 rakaat. Ketika peristiwa isra’ dan mikraj jumlahnya tetap dua rakaat. Berbeda dengan shalat ashar. Awal diperintahkan shalat ashar adalah 2 rakaat, namun saat isra dan mikraj ditambah sehingga menjadi 4 rakaat.
Adzan shalat subuh berbeda dengan adzan shalat-shalat yang lain. Yaitu terdapat tambahan lafadz “ash shalatu khairun min an naum”
artinya shalat itu lebih baik dari tidur.
Terdapat dzikir sesudah shalat yang khusus yang tidak diperintahkan pada shalat yang lain.
•Shalat subuh satu-satunya shalat yang tidak dapat dijamak dan di qashar
Waktu subuh adalah watu yang disaksikan para malaikat
Allah telah muliakan waktu shalat subuh dalam kitab-Nya. Allah tidak bersumpah mengenai waktu shalat yang fardhu kecuali hanya waktu shalat subuh dan ashar.
Allah bersumpah dengan sebutan “wal fajr” dan “ wa layalin ‘asyr”. Demikian pula waktu fajar adalah waktu dimana para malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan orang yang mendirikan shalat subuh.
تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمِيعِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا )
Shalat berjama'ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian. Dan Malaikat malam dan Malaikat siang berkumpul pada shalat fajar." Abu Hurairah kemudian berkata, "Jika mau silahkan baca: '(Sesungguhnya shalat fajar disaksikan (oleh para Malaikat) ' [Qs. Al Israa: 78] (HR. Bukhari no. 612)
•Orang yang shalat subuh senantiasa dalam jaminan perlindungan Allah
Dari Jundab bin Sufyan, Nabi bersabda:
"من صلى صلاة الصبح فهو في ذمة الله"
Barangsiapa shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah (HR. Muslim no. 1050)
• Penghapus dosa selama separuh umur.
Satu shalat dengan shalat selanjutnya adalah pengapus dosa kecil yang dilakukan diantara dua waktu shalat tersebut. Dari Abu Hurairah Nabi bersabda:
"الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر"..
Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dari ramadhan ke ramadhan adalah penghapus dosa diantaranya jika meninggalkan dosa-dosa besar (HR. Muslim)
Padalah jeda waktu anatara shalat isya dengan shalat subuh adalah jeda dua shalat yang paling panjang. Sehingga jika kedua shalat ini ditegakkan dengan baik maka keduanya adalah penghapus dosa diantara keduanya. Jika diakumulasikan maka dosa hampir separuh umur kita dapat dihapuskan oleh dua shalat ini.
Dr. Raghib al Sirjani dalam kitab beliau Kaifa tuhaafidzu ‘ala shalati al fajri memberikan beberapa tips penting untuk dapat menjaga keistiqamahan shalat subuh berjamaah.
Tips-tips tersebut adalah:
1.Beramal ikhlas hanya karena Allah SWT
2.Mengokohkan tekad dan mengkoreksi (muhasabah) diri setiap hari
3.Bertaubat, dan bertekad untuk tidak mengulangi
4.Banyak berdoa kepada Allah agar dikuatkan melaksanakan shalat 5.subuh berjamaah di masjid dan di awal waktu
6.Meminta motivasi dari sahabat yang baik
7.Tidur sesuai sunnah Nabi saw
8.Tidur lebih awal, berwudhu, dan membaca zikir sebelum tidur
9.Tidak makan dalam jumlah yang banyak sebelum tidur, hindari teh dan kopi
Catat perkembangan shalat subuh anda dan gantung di dinding
10. Pasang alarm
11. Telpon orang lain (sahabat) dan mulai dari keluarga
Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menggapai beragam keutamaan shalat subuh.
Selanjuntnya semoga kita juga diberikan taufik untuk menegakkan syariat Allah dalam seluruh sendi kehidupan kita.
Amiin ya mujiba as-sailiin.
Sumber : Wahyudi Ibnu Yusuf, M. Pd





